Selasa, 07 Januari 2014

Hidup Sederhana

Sederhana adalah kata sifat yang bermakna “bersahaja” atau “tidak berlebih-lebihan”. Orang yang hidup sederhana adalah orang yang hidup dengan bersahaja dan tidak berlebih-lebihan. Ketika kekurangan, orang yang sederhana tidak akan menghalalkan segala cara, termasuk menyusahkan dirinya, untuk memperoleh harta agar dihormati oleh orang lain. Begitu pula, ketika mempunyai harta lebih, orang sederhana tidak akan tergoda untuk bermewah-mewahan, menumpuk hartanya di rumah sendiri, tidak pula memanjakan diri dengan segala fasilitas serba lux.
Kesederhanaan adalah kisah langka di era modern. Buktinya, banyak dari kita yang selalu merasa “tidak cukup”, meski hidup sudah tercukupi. Bahkan karena tidak bisanya hidup sederhana, ada orang yang sedang dihukum pun nekad membawa kemewahan ke dalam penjara. Mungkin baginya, tidak sah hidup di zaman kini tanpa melekatkan berbagai atribut kemewahan dalam dirinya.
Di era yang menjadikan benda sebagai pujaan, kesederhanaan adalah nilai usang. Hidup sederhana dianggap tidak populer dan tidak mempopulerkan. Kalau pun banyak orang sederhana, itu karena tidak ada pilihan lain kecuali hidup “seadanya”. Orang yang hidup terjepit nasib dan pemiskinan.
Anjuran Hidup Sederhana
Padahal Islam adalah agama yang menganjurkan umatnya untuk hidup sederhana. Islam mengajarkan agar membelanjakan harta tidak secara berlebih-lebihan dan tidak pula kikir (QS Al-Furqaan 25: 67). Di sisi lain, Islam juga mengecam mereka menumpuk-numpuk harta dengan akan memasukan ke nerakaHuthamah (QS. Al-Humazah: 1-9). Sementara mereka yang sukanya menimbun emas dan perak serta tidak menafkahkannya di jalan Allah, diancam dengan siksaan pedih dan menyakitkan (QS. At-Taubah:34).
Bukan tanpa alasan Islam menganjurkan umatnya untuk hidup sederhana. Pola hidup sederhana sejatinya akan membawa ketenangan hidup. Pola hidup sederhana juga bisa menjauhkan diri dari gaya hidup boros dan berlebih-lebihan (konsumtivisme). Orang yang sederhana, hidupnya tidak diburu oleh nafsu, pikiran selalu kurang, dan oleh berbagai ambisi yang membuat jiwa semakin kering.
Secara sosiologis, pola hidup sederhana dapat merekatkan semua kelompok dalam masyarakat. Orang kaya yang sederhana, akan dengan mudah membangun relasi dengan orang miskin. Begitu pula seorang pejabat yang sederhana bisa berinteraksi dengan rakyatnya tanpa ada jurang pemisah.
Selain itu, kesederhanaan bisa juga menimbulkan empati satu sama lain. Seorang pemimpin yang sederhana akan dicintai oleh rakyatnya. Sementara pemimpin yang gemar menumpuk harta akan dibenci bahkan ditumbangkan oleh rakyatnya. Ingatlah para pemimpin dunia yang dijatuhkan oleh rakyatnya sendiri karena pemimpin itu gemar menumpuk harta, termasuk dengan jalan korupsi.
Kesederhanaan Muhammad SAW
Kesederhanaan juga ditunjukkan oleh Nabi Muhammad SAW. M. Quraish Shihab dengan mengesankan menggambarkan kesederhanaan Nabi dengan menulis bahwa harta beliau yang paling mewah hanyalah sepasang alas kaki berwarna kuning yang merupakan hadiah dari Nigus dari Abbisinia. Beliau tinggal di pondok kecil beratapkan jerami yang tingginya dapat dijangkau oleh seorang remaja. Sekat-sekat kamarnya terbuat dari batang pohon yang dilekatkan dengan lumpur bercampur kapur. Beliau sendiri yang menyalakan api, mengepel lantai, memerah susu, dan menjahit alas kakinya yang putus. Santapannya yang paling mewah dan jarang dinikmatinya adalah madu, susu, dan lengan kambing (M. Quraish Shihab: 1994).
Begitu sederhananya Nabi Muhammad SAW, meskipun sudah menguasai seluruh Jazirah Arab, tetap tidak tergoda dengan kemewahan dan kekuasaan duniawi. Padahal, jika saja Nabi mau, keinginan apa pun, sebagai penguasa waktu itu, akan dipenuhi. Namun, Nabi bukanlah sosok yang gemar memamerkan harta, bukan pula manusia yang siap angkuh berdiri di tengah kekuasaannya. Beliau adalah sosok sederhana yang justru sangat populer tatkala dirinya tidak berambisi untuk dipopulerkan.
Sepanjang hayatnya, Nabi Muhammad SAW adalah orang yang konsisten pada pola hidup yang sederhana. Ketika beliau wafat, tidak banyak harta yang ditinggalkannya. Amru bin Harith meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW ketika wafat tidak meninggalkan dinar, dirham, hamba sahaya lelaki atau perempuan, dan tiada sesuatu apa pun, kecuali keledai yang putih yang biasa dikendarainya dan sebidang tanah yang disedekahkan untuk kepentingan orang rantau (HR. Bukhari).
Berbanding terbalik dengan para pemimpin kita yang seolah terus merasa kekurangan. Meski hidup sudah lebih dari cukup, masih minta naik gaji. Meski belum bisa dijadikan teladan oleh rakyatnya, sudah minta fasilitas nomor wahid. Meski belum bisa bekerja secara maksimal, tetap ingin merencanakan gedung baru yang lebih besar dan mewah. Selain itu, banyak pula pemimpin yang setelah menjabat ditemukan limpahan nominal uang di rekeningnya. Ada pula yang menjadi orang nomor satu di negeri ini, tatkala lengser dari jabatannya, hartanya berlimpah, bahkan ada yang menganggapnya tidak akan habis “tujuh turunan”.
Pemujaan terhadap hidup mewah, glamour, dan selalu merasa kurang adalah cerminan hidup yang jauh dari praktik Nabi. Hidup yang demikian menempatkan benda sebagai dewa. Seolah ketenangan dan kebahagian hidup tergantung pada banyaknya harta. Prestasi kemanusiaan hanya ditentukan fasilitas mewah. Padahal, Nabi Muhammad SAW telah membuktikan bahwa dengan hidup sederhana kemajuan bidang sosial maupun politik bisa diraih. Pun, kesederhanaan hidup tidak lantas harga diri beliau turun. Tidak pula pengaruh beliau menyusut. Jikalau ada lembaga survei waktu itu, akan terbukti bahwa kesederhanaan beliau tidak pernah menjadi variabel yang membuat angka popularitas Nabi menurun. Sebaliknya, beliau semakin dikenal karena banyak orang kagum atas kesederhanaannya.
Tapi, dasar manusia itu seperti seekor keledai (kata seorang penulis), setelah diberitahu dan dicambuk pun, sering tidak bergeming. Ketika diperingatkan, termasuk dianjurkan untuk hidup sederhana, banyak manusia masih saja asyik mengikuti hawa nafsunya, hidup glamour dan tidak terkendali.
Dengan tulisan ini, kita bisa memandang hidup dengan penuh kesederhanaan. Semoga!

oman",j � i " p�� hj� bsp;

8. Bahan Kebutuhan Pokok Masih Langka
Langkanya bahan kebutuhan pokok adalah salah satu masalah serius yang menimpa kondisi ekonomi indonesia. Masalah ini akan sangat terasa sekali di saat menjelang perayaan hari-hari besar seperti hari raya idul fitri, natal, dan hari-hari besar lainnya.
Meskipun pemerintah terkadang melakukan razia pasar untuk terjun langsung melihat penyebab langkanya bahan kebutuhan pokok, namun tindakan ini dirasa masih jauh dari menyelesaikan masalah langkanya kebutuhan pokok itu sendiri.

9. Kesejahteraan
Kesejahteraan adalah lawan dari kemiskinan. Masalah ini tergolong popular dalam ekonomi karena pada hakikatnya setiap orang ingin kaya, makmur dan ingin mempunyai banyak uang. Semua itu tertuju pada kata kesejahteraan.

10. Pertumbuhan Ekonomi
Dari pandangan ekonomi makro, pertumbuhan ekonomi suatu negara mencerminkan menaiknya atau menurunnya situasi ekonomi suatu negara. Pertumbuhan ekonomi dapat dilihat dari aspek Produk Domestik Bruto, total ekspor impor dan lain sebagainya.

11. Suku Buka Perbankan Terlalu Tinggi
Perlu anda ketahui bahwa salah satu indikator untuk menentukan baik atau tidaknya kondisi perekonomian di suatu negara adalah suku bunga. Semakin tinggi atau semakin rendahnya suku bunga perbankan di suatu negara, maka akan berpengaruh besar terhadap kondisi ekonomi di negara tersebut. Nah, untuk suku bunga perbankan di Indonesia masih dinilai terlalu tinggi sehingga masih perlu perhatian lebih dari pemerintah untuk mengatasi masalah ini.

12. Nilai Inflasi Semakin Tinggi
Selain suku bunga perbankan, satu hal lagi yang juga mempengaruhi kondisi ekonomi di suatu negara adalah nilai inflasi. Di Indonesia, nilai inflasi dinilai nyaris cukup sensitif. Bahkan hanya gara-gara harga sembako dipasaran tinggi, maka nilai inflasi juga terpengaruh. Akibat dari tingginya nilai inflasi di negara kita ini, maka akan bermunculan masalah-masalah ekonomi Indonesia yang lain.

Macam-macam Kebutuhan
Kebutuhan manusia banyak dan beraneka ragam, bahkan tidak hanya beraneka ragam tetapi bertambah terus tidak ada habisnya. Satu kebutuhan telah Anda penuhi, tentu akan datang lagi kebutuhan yang lainnya. Namun demikian, kita dapat menggolongkan kebutuhan-kebutuhan sebagaimana bagan berikut ini:
      a)      Kebutuhan menurut intensitasnya
Kebutuhan ini dipandang dari urgensinya, atau mendesak tidaknya suatu kebutuhan. Kebutuhan ini dikelompokkan menjadi tiga: kebutuhan primer, kebutuhan sekunder, dan kebutuhan tertier.
      b)      Kebutuhan Primer : kebutuhan ini mutlak harus dipenuhi agar kita tetap hidup, seperti kebutuhan akan makanan, pakaian, tempat tinggal, dsb.
      c)      Kebutuhan Sekunder           : kebutuhan ini disebut juga kebutuhan kultural, kebutuhan ini timbul bersamaan meningkatnya peradaban manusia seperti:
1.      ingin makan enak
2.      ingin pakaian yang lebih bagus
3.      ingin perabotan lebih bagus
      d)     Kebutuhan Tertier : kebutuhan ini ditujukan untuk kesenangan manusia, seperti kebutuhan akan perhiasan, mobil mewah, rumah mewah, dsb..
      e)      Kebutuhan menurut sifatnya
Kebutuhan ini dibedakan menurut dampak atau pengaruhnya terhadap jasmani dan rohani.
a.       Kebutuhan jasmani, contohnya: makanan, pakaian, tempat tinggal, dsb.
b.      Kebutuhan rohani, contohnya: musik, menonton bola, ibadah, dsb.
      f)       Kebutuhan menurut waktu
Kebutuhan ini dibedakan menurut waktu sekarang dan waktu masa yang akan datang. Kebutuhan sekarang, adalah kebutuhan yang harus dipenuhi sekarang juga, seperti: makan di saat lapar, atau obat-obatan pada saat sakit. Kebutuhan masa depan, yaitu pemenuhan kebutuhan yang dapat ditunda untuk waktu yang akan datang, misalnya: tabungan hari tua, asuransi kesehatan, dsb.
      g)      Kebutuhan menurut wujud
Kebutuhan ini meliputi kebutuhan material, yaitu kebutuhan berupa barang-barang yang dapat diraba dan dilihat. Misalnya: buku, sepeda, radio, dsb.
h    h.)     Kebutuhan menurut subyek
Kebutuhan ini dibedakan menurut pihak-pihak yang membutuhkan. Kebutuhan ini meliputi: kebutuhan individu, yaitu kebutuhan yang dapat dilihat dari segi orang yang membutuhkan, misalnya: kebutuhan petani berbeda dengan kebutuhan seorang guru. Kebutuhan masyarakat, disebut juga kebutuhan kolektif atau kebutuhan bersama, yaitu alat pemuas kebutuhan yang digunakan bersama, misalnya: telepon umum, jalan umum, WC umum, rasa aman, dsb.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar